Buku ini mengantarkan pembaca awam pada perspektif sosiologi yang cukup holistik, dengan memulai materi pembahasannya pada ontologi dan epistemologi ilmu sosiologi di antara khasanah ilmu lainnya, serta bagaimana urgensi sosiolog dalam riset sosiologis. Pada bab pertama tersebut, penulis juga menjelaskan terkait bias dalam kehidupan kesehariannya, dan menyatakan “I am suspicious of anyone who argues that he or she knows the ‘‘truth’’ when it comes to the human being.”. Terkait dengan posisi kritis tersebut, penulis juga menyatakan “Sociology is an academic discipline, an attempt to seek knowledge and understanding through painstaking and critical investigation” lebih lanjut “need to be open-minded, careful, critical of those who are influencing me and critical of my own set of beliefs”.

Pada Bab I, penulis menjelaskan 5 pemikir utama yang mempengaruhi dirinya, yakni Karl Marx, Max Webber, Emile Durkheim, George Mead dan Peter Berger. Dari Marx sosiologi secara singkat mendapatkan pemahamannya tentang underlying idea, that social inequality (mode of production) is the key to understanding society (disebut oleh penulis sebagai critical sociologist). Dari Weber sosiologi secara singkat mendapatkan pemahamannya tentang describing the importance of culture (religion) in influencing how people act (disebut oleh penulis sebagai cultural sociologist). Dari Durkheim sosiologi secara singkat mendapatkan pemahamannya tentang religion, law, morals, education, ritual, the division of labor, and even crime in maintaining  society. Disamping tiga besar sosiolog tersebut, penulis juga menyebutkan Mead yang menempatkan aspek psikologis dan complex links between society and the human being (symbol use, selfhood, and mind). Serta dari Peter Berger, sosiologi mendapatkan pemahaman mendasarnya tentang how sociology is liberating because it helps to reveal our taken-for-granted realities for what they are.

Dari kelima sosiolog besar tersebut ditambah latar belakang dari filsafat Yunani kuno (Socrates, Plato, dan Aristoteles) sosiologi dikontruksikan. Filsafat Yunani kuno yang menjelaskan konsep search for understanding (the Greek philosophers developed a critical approach to ideas—a questioning of the ideas that people believed at the time. In their constant questioning, the Greek philosophers were teaching people who would listen to them (logical proof). Pertanyaan lanjutan untuk dalam kaitannya dengan bukti rasional dan sosiologi: “The development of social science in the eighteenth century and the founding of sociology as a social science in the nineteenth century were consequences of these developments and became part of this critical tradition”

Pada sub-bab selanjutnya penulis menjelaskan tentang bukti empiris sosiologi dalam khasanah keilmuan. Kembali mengutip dari filsuf Yunani: The Socratic method of investigation is a continuous set of questions posed to someone. Penulis tertarik bagaimama manusia dijadikan subjek utama dalam konteks pencarian pengetahuan, Seperti yang disebutkan oleh Comte: “the critical methods of the ancient Greeks can and should be applied to Society, but in facts: They should rely on astrictly scientific approach, a measuring stick even more demanding thanrational proof”.  Karena memang seperti yang lebih lanjut disebutkan Comte: “Comte believed that the purpose of the discipline he was founding, sociology (the ‘‘science of society’’), would be to analyze the nature of society carefully and objectively through careful observation”. Atau dengan cara lain, Comte menggunakan rasionalitas sebagai peraba awal (observasi seperti dalam kasusnya Archimedes), lalu empirisitas sebagai klaim ilmiahnya (An idea is rationally developed, but then it must be empirically test). Philosophers and mathematicians rely heavily on rational proof; scientists rely on the empirical (klaim empiris adalah basis buku ini, seperti contoh teori “Suicide” Durkheim).

Pada akhirnya sebagai suatu bidang keilmuan, sosiologi menjadi tidak mudah karena interaksi, grup, kekuatan bukan merupakan suatu entitas fisik. Namun bagaimanapun seperti yang disebutkan oleh penulis: “Sociologists do not have a narrow, rigid view of science”. Bahkan Weber menyebutkan bahwa sains (sosiologi sebagai sains) haruslah beradasar pada investigasi bebas nilai, atau “an attempt to carefully and objectively observe the world ‘‘as it is’’ rather than as we would like it to be”. Untuk menjadi objektif, seperti yang disebutkan oleh penulis: “To be objective means literally to see the world as an ‘‘object’’ apart from ourselves, to separate it as much as possible from our subjective perception”, walaupun pada dasarnya menjadi objektif sepenuhnya hampir tidak mungkin terlebih ketika menyangkut kehidupan manusia dan manusia itu sendiri.

Pada bab selanjutnya (III), penulis membuka dengan pertanyaan: bagaimana suatu tatanan sosial dapat memungkinkan dan terbentuk? Dengan mengutip jawaban Hobbes: Hobbes tended to answer the question by the use of force; but, sociologists do not deny force, but their answer is more complex and leads to a more peaceful and willing acceptance of social order.           

Society is a social social organization of the people. Kalimat tersebut dimaknai sebagai konteks kultural, sejarah dan nilai norma kesatuan masyarakat yang dibawahnya terdapat kelompok-kelompok serta organisasi formal lainnya. Society is the largest social organization that individuals identify with and are socialized into; they are constantly affected by its social patterns.

Dalam kaitannya dengan konstruksi suatu masyarakat, maka komponen pertama yang akan dibahas adalah interaksi sosial. Society Is Possible through Social Interaction, People must interact for society to begin and for it to continue. Kutipan penting penulis: “Interaction is the building block of society” /  “Actors take account of one another when they act. I act with you in mind; you act with me in mind; I act with you in mind again”. Kalimat tersebut menunjukkan bagaimana urgensi sosiologis dari interaksi, pertukaran simbol yang juga bagian dari proses reprositas dalam pembentukan masyarakat. Interaksi sosial juga mampu menunjukkan bagiamana gambaran masyarakat di dalamnya: When there is no interaction, there can be no society; when interaction is segregated into two or more distinct entities, we must say that there is more than one society among those people. Karena pada dasarnya, dalam proses komunikasi tersimpan nilai – norma, ide, perasaan, kepentingan yang saling berinteraksi, yang mengindikasikan bagaimana posisi, fungsi hingga penerimaan individu dalam masyarakat. Penulis juga mencontohkan Amerika dalam fungsi dan konstruksi interaksi yang membentuk konformitas masyarakat disana: Poverty is a tragedy; capitalism is a healthy; college education is a necessity.

Komponen kedua yang dianggap perlu dalam pembentukan organisasi termasuk masyarakat (society) adalah social pattern (atau pola-pola sosial). Ketika interaksi sosial dijalankan, pada saat itu pula pola-pola sosial mulai terbentuk dan lambat laun saling mempengaruhi. Atau secara definisi penulis menyebutkan: social patterns are routines, common expectations, predictable behaviors, and ways of thinking and acting that have been established so that ongoing cooperation is made possible. Dalam pola-pola sosial, terdapat tiga pola utama, yakni: (1) budaya; (2) struktur sosial; (3) institusi sosial.

Dalam pola budaya sendiri, terdapat tiga poin utama yang melingkupi, yakni: (1) aturan; (2) nilai; (3) kepercayaan. Pada poin aturan, penulis memaknainya dengan: “the system that tell individuals how to act; they tell them how others expect them to act”, atau “they aid society’s continuation through regulating individual action”.  Lalu pada poin nilai, penulis mengartikannya dengan: “what people are committed to, what they consider to be important in their lives”.

Pada bagian terakhir, penulis menjelaskan terkait dengan misi seorang sosiolog: “to probe the answers people give, uncover what they believe, examine reality through controlling personal and social bias, and see the human being in society as clearly and carefully as possible

 

 

Indtroduksi pada kelas tanggal 23 Agustus 2011 dimulai dengan pengenalan konsep diri dan motivasi. Setelah itu kami diperkenalkan dengan teori Maslow, psikolog humanistik yang banyak memberikan kontribusi pada dunia humaniora. Berikut adalah piramid teori Hierarki kebutuhan yang dinyatakan oleh Maslow:

Muncul sedikit kritik dalam memandang piramida hirarkis tersebut, yang menurut saya kebutuhan diri tidak pernah mengenal konsep liniearitas. Tingkatan-tingkatan hirarkis tersebut menjadi paradoks dan irelevan, atau dalam artian tidak ada indikator sahih apakah orang dengan pendapatan rendah selalu berada pada tingkat piramid terbawah? Atau orang pendapatan tinggi selalu pada tingkatan atas? Atau seseorang menjadi juara kelas sebagai konsekuensi terpenuhinya rasa memiliki atas komunitas? Dan pernyataan lain sebagainya yang paradoksal. Sebagai contoh pada tingkatan ke-2 yaitu Safety, subjektifitas dan konsep pemaknaan diri dan lingkungannya akan sangat berlaku. Karena rasa aman itu hanya ada jika orang tersebut merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya, dan dalam bentuk abstraksi apapun itu, baik bahkan dengan seminim-minimnya materi ataupun sedangkal-dangkalnya aide. Tidak terdapat indikator materi, rumah mewah berpagar maupun kecup kasih sanak saudara setiap hari yang akan membuat seseorang mencapai tahap safety. Juga aktualisasi diri, yang menurut saya definisinya sangat luas dan kembali pada masing-masing subjek. Dan menurut saya ini jauh lebih ke motivasi seseorang mendapatkan tingkatan-tingaktan tersebut, dan mungkin hanya tingkatan pertama tentang kebutuhan fisiologis yang cukup memiliki kaitan dengan aktualisasi seseorang.

Pembahasan hirarki teoritik pada piramida:

  • Fisiologis, kebutuhan mutlak manusia. Semua manusia membutuhkan sandang, papan, dan pangan, serta kebutuhan biologis lain.
  • Keamanan, kebutuhan untuk seseorang dapat merasa sejahtera, terbebas dari tekanan dll.
  • Sosial/Kepemilikan, kebutuhan terhadap kehidupan bersosial, kebutuhan terhadap objek yang dapat menerima dan memberi.
  • Self Esteem, kebutuhan terhadap suatu pujian atau penghargaan untuk pembuktian eksistensi diri dalam rangka pemenuhan kepuasan seseorang.
  • Aktualisasi Diri, tingkatan dimana manusia dapat berlaku bebas dengan dirinya sendiri, dimana dia dapat mengekspresikan diri dengan sebebas-bebasnya.

Ketika manusia dapat  memahami bahwa semua kebutuhan dan kepuasan itu dapat berdasar pada motivasi dan menginternalisasi pikiran, mungkin akan banyak orang dapat merasakan ‘kepuasan’ dalam arti yang sesungguhnya. Karena motivasi adalah sesuatu yang timbul secara timbal balik terhadap realitas, dan pemaknaan realitas adalah bebas dan non-konsekuensial, sehingga teori ini menjadi terbuka terhadap gagasan-gagasan kritik lainnya.